kenapa mau jadi guru

Prof. Dr. Zakiah Daradjat (1980) mengatakan bahwa kepribadian seorang guru yang sesungguhnya adalah abstrak (maknawi), sukar dilihat dan diketahui secara nyata, yang dapat diketahui adalah penampilan atau bekasnya dalam segala segi dan aspek kehidupannya.

Mengutip pendapat di atas, bisa dibayangkan betapa diperhitungkan segala aspek yang terdapat dalam diri seorang guru. Mulai dari tata cara berpakaian, berbicara, sikap saat mengajar yang tercermin dari kesabarannya dan ketegasannya dalam menghadapi siswa yang beragam. Guru diharuskan pula menguasai segi kognitif dari materi-materi yang ia ajarkan. Selain itu, hal yang tak kalah pentingnya yakni sikap seorang guru dalam berinteraksi dengan orang tua siswa dan masyarakat sekitar. Semua itu terangkum dalam kompetensi yang harus sudah melekat dalam diri seorang guru. Namun mengapa guru harus menyandang gelar pahlawan tanpa tanda jasa?

Gelar pahlawan tanpa tanda jasa. Apakah itu ungkapan nasib seorang guru? Ataukah itu hanya slogan para kaum yang tak mau memerhatikan dan menghargai jasa seorang guru? Atau bahkan ada yang berdalih masih ragu dengan ungkapan tersebut untuk seorang guru? Lantas, sebenarnya siapa yang berhak mendapat gelar itu? Siapa guru dan siapa pahlawan tanpa tanda jasa?

Pertanyaan yang mengacaukan paradigma “indahnya menjadi seorang guru”. Realita mengungkap, betapa besar jasa seorang guru namun jasa itu hanya terbungkus rapi bagaikan bingkisan kado yang tak seorang pun akan melihatnya apalagi berani membelinya.

Pahlawan tanpa tanda jasa memilki tanggung jawab yang besar, tak cukup bermodalkan kemampuan intelektual yang tinggi, segi watak dan gerak gerik dalam bersosialisasi dengan orang lain juga menjadi tolak ukur keberhasilannya. Meski demikian, tak pupus generasi penerus dari kalangannya. Dapat dilihat banyaknya universitas yang membangun fakultas khusus pendidikan bahkan ada pula perguruan tinggi yang mengatasnamakan dirinya sebagai perguruan tinggi khusus pendidikan, seperti IKIP PGRI.

Guru diibaratkan sebagai gula dalam larutan kopi, teh, susu, ataupun minuman manis lainnya. Bagaimana tidak? Lahirnya seorang Jokowi, Susilo Bambang Yudhoyono, dan Barock Obama di dunia politik hingga menjadi seorang pemimpin masyarakat tak luput dari peran seorang guru. Sedikit banyak seorang guru telah menaburkan bibit-bibit pengetahuan dan pendidikan pada mereka. Namun saat mereka duduk pada singgasana yang tinggi, tak seorang pun yang bertanya siapa pendidik mereka? Siapa yang berperan dibalik kemahirannnya? Saat itu guru tak ubahnya penonton yang menjadi saksi keberhasilannya. Sebagaimana wedang kopi yang terasa manis tetapi tak satupun yang meminumnya mengungkapkan peran gula di dalamnya.

Mengajar dan menuntun siswa untuk menjadi manusia yang berkulaitas baik segi moral maupun intelektual sudah menjadi tugas seorang guru. Guru menggantikan peran orang tua dalam mendidik anak. Bukan berarti orang tua tak mau mendidik anaknya, namun keterbatasan kemampuan dan kesempatan orang tua menjadi salah satu alasan penting adanya peran seorang guru.

Guru merupakan orang tua ketiga seorang anak setelah orang tua kandung dan orang tua calon suami atau istrinya nanti. Guru mengenalkan siswa pada tanah air dan segala aspek yang terkait dengannya, yang disajikan dalam berbagai ilmu pengetahuan dalam pembelajaran. Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) mengenalkan siswa pada alam dan mengajarkan bagaimana pemanfaatannya serta pelestariannya. Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) mengenalkan siswa pada teori-teori humanisme dan mengajarkan bagaimana berinteraksi yang baik dan benar terhadap sesama manusia. Peran bahasa juga tak kalah pentingya, dengan bahasa siswa bisa memahami berbagai cuap-cuap yang ia dengarkan. Pengetahuan matematik mengajarkan siswa menghitung angka-angka, ranah yang satu ini apabila ditelusuri lebih lanjut akan bisa merangsang kemampuan berpikir dan pola berbicara siswa, yaitu ia akan terbiasa berpikir sistematis dan logis sebagaimana penyelesaian deret aritmatik yang tercantum dalam serangkaian materi matematika.

Seorang pahlawan tanpa tanda jasa yang menancapkan panah ilmu pengetahuan ke dalam dada siswa menembus jiwa dan pikirannya. Walaupun pada dasarnya daya siswa berbeda dalam memposisikan diri agar panah meluncur tepat sasaran. Semua tergantung bagaimana siswa menyikapi dan menindak lanjuti pengetahuan yang ditransfer oleh gurunya.

Realita mengungkap, sebagian besar orang tua akan menyalahkan guru saat anaknya gagal. Ironisnya, jarang sekali orang tua mengumbar jasa guru saat anaknya berhasil. Bagaimana seorang pahlawan harus terabaikan oleh orang yang menikmati jasanya. Dan yang lebih mengagumkan lagi, tak sedikitpun para pahlawan itu geram dan menarik ilmunya kembali dari anak-anak yang berhasil itu. Malahan mereka senantiasa menyambut keberhasilan itu dengan senyum kebanggaan walaupun toh namanya tidak akan tercantum dalam sejarah kesuksesan anak didiknya.

Guru bukan seorang yang bisa mencetak generasi intelektual dan bukan pula pemasok para ilmuan yang handal. Dia juga bukan sang revolusioner dengan berbagai ilmu pengetahuan dan kretivitasnya. Dia hanyalah seorang yang selalu berusaha membawa dan mengarahkan anak didik untuk mencapai cita-citanya. Dia akan selalu belajar untuk menambah derajat intelektualitasnya dan berusaha memperbaiki sikap, mengingat dia adalah seorang yang berhak digugu lan ditiru.

Tidak cukup dari sekedar berhati-hati dalam bersikap dan meningkatkan kualitas intelektual. Guru pun harus berkiblat pada peraturan pemerintah terkait pendidikan yang sering kali dirubah. Guru dituntut lebih kreatif dan inovatif dalam rangka mewujudkan anak bangsa yang cerdas dan berkualitas. Sebagian besar guru harus berusaha mandiri semaksimal mungkin untuk bisa mencapai aturan pemerintah tersebut. Lantaran pelatihan yang diadakan oleh pemerintah terkait profesionalisme guru kurang maksimal.

Alangkah besar pengorbanan, perjuangan, dan tantangan yang dihadapi oleh seorang guru. Padahal penghargaan yang ia terima kurang sepadan dengan apa yang ia lakukan. Meskipun tak jarang pula seorang guru yang selalu memperhitungkan kuantitas materi. Lalu tanda jasa yang bagaimana yang seharusnya disandang oleh seorang guru. Sampai saat ini belum ada yang berhasil menunjukkan penghargaan yang sesuai dan setara untuk menghargai tetesan keringat perjuangan dan ketulusan seorang guru. Gelar “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” bukanlah nasib guru, bukan pula umpatan orang-orang yang tak mau memerhatikan energi perjuangan guru. Tetapi gelar itu adalah kebesaran seorang guru.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s